Mendidik Anak

Tulisan bermanfaat yang saya dapat dari salah satu milis pengajian. Semoga bermanfaat juga buat yang lain.

~mamaMARE~

31 Poin Penting Dalam Mendidik Anak:
–Sebuah Ringkasan Seminar Parenting–
“Membangun Komunikasi yang nyaman
antara Orangtua dan Anak”
Bersama Abah Ihsan di Tokyo, Nagoya, Kobe
Kerjasama Fahima dengan KMII Kansai, KMI Nagoya dan Sekolah Bhinneka PPI Nagoya
3-6 November, 2011
*Disusun oleh Pak Khoirul Anwar dan Tim PPA Fahima.
CATATAN.
Pesan Abah Ihsan: ”Jika Anda tidak setuju, silakan ambil bagian yang Anda setuju saja”. Karena Abah Ihsan menyampaikan dengan cukup cepat (kata beliau, ”seminar harusnya dua hari tetapi dijadikan hanya 4 jam”). Ringkasan ini bisa jadi tidak sistematis (tidak sesuai klasifikasi/urutan), tetapi semoga pesan tersampaikan dengan baik kepada pembaca sekalian.
1 Efektifitas
 Fokus
Jangan ketika kerja mikirin anak. Jangan ketika main sama anak tapi mikirin kerja.
 Terlibat
 Anti Jaim
 Konsentrasi
2. Ilmu
Simulasi 1: permainan tali.
Tiap orang berpasangan, lalu mengikat tali dari tangan kiri ke tangan kanan, dengan tali yang menyilang diantara tali pasangan.
Tantangan: Bagaimana melepaskan kaitan tali, tanpa melepaskan tangan dari ikatan tali?
Hasil: – kebanyakan pasangan mencoba-coba dengan berbagai pose
– 1 pasangan berhasil à karena sudah punya ilmunya.
Ada Dua Metode Mendidik Anak jika tidak punya Ilmu:
 Mendidik dengan Warisan
Mendidik anak kita sebagaimana orang tua kita mendidik kita, termasuk pada saat menegur anak. Misalnya kita yang sering dicubit oleh orang tua kita biasanya menurun pada kita dan kita melakukan hal yang sama, yaitu mencubit, pada anak kita.
 Mendidik dengan Trial and Error
Yang ini kita agak kerepotan dan kesulitan. Ini mirip saat melepas tali.
Misal, saat anak kita menonton TV dari dekat, pertama trial diberitau  baik-baik belum mundur, kedua trial dengan suara agak keras belum berhasil, ketiga trial dengan sedikit berteriak/membentak, keempat bisa jadi ada yang mencubit atau semacamnya
PENTING 1: Yang terbaik adalah mendidik dengan memiliki ilmunya.
Hasil simulasi pada saat seminar membuktikan, pasangan yang belum berhasil masih tetap mencoba-coba walau pembicara sudah memasuki topik lain. Hal ini menunjukkan sifat alamiah manusia yang memiliki rasa penasaran, begitu juga dengan anak kita. Hendaknya kita bersabar saat anak tidak segera memenuhi panggilan kita karena masih asyik dengan kegiatannya, dan jangan marah karena itu akan membunuh rasa penasarannya.
PENTING 2: Rasa penasaran anak perlu difasilitasi
3. Kesabaran
Simulasi 2: Abah bertanya pada seorang peserta seminar:
Mama lagi masak apa?”, “Dimasukkan apa saja?”, ”Mengapa dikasih gula?” dengan sederet pertanyaan yang tak hentinya. Yang ditanya saat seminar menjawab dengan sabar.
Apakah pada kenyataannya, pada saat sang anak bertanya pada saat kita masak kita akan sesabar sewaktu menjawab di seminar? Seringkali kita kurang sabar menghadapi pertanyaan dari anak. Penyebabnya: waktu, atau karena pertanyaan anak tampak sepele dan sulit untuk dijawab.
Solusinya:
Jika sedang leluasa, ajak anak terlibat memasak sembari bercerita.
Namun jika sedang mengejar waktu dan tidak bisa menjawab, jangan marah! Berikan jawaban yang baik misalnya: ”Nanti dulu nak ya, ini nanti gosong. Insya Allah selesai masak Mama jelaskan.”
PENTING 3: Bersabar saat anak-anak bertanya.
4. Marah atau tidak marah?
Yang membuat kita marah pada anak adalah perbuatan anak yg buruk. Buktinya, kita tidak jadi marah saat anak kita baik.
Pertanyaanya marah ini baik atau tidak? Jadi bukan marah yang disalahkan/dikelola, tetapi perbuatan anaklah yang harus kita kelola.
Ada kalanya marah ini bermanfaat untuk membuat sebuah ketegasan. Jangan sampai ketika anak berbuat salah yang keterlaluan pun tetap tidak marah. Karena anak sedang mencoba-coba dan ingin mengetahui respon sebuah percobaan. Jika dari sebuah percobaan, hasilnya kemarahan, dia tidak akan mengulangi lagi.
Contoh salah perbuatan anak yang wajib ditegur:
(a). membahayakan diri sendiri,
(b) Menyakiti orang lain,
(c) Melanggar syariat.
Renungan 1: Untuk Apa berkeluarga?
Pada umumnya, dimanapun pertanyaan ini diberikan, jawaban dapat dikelompokkan menjadi 3:
l keturunan
l biologis
l nilai (misalnya untuk menyempurnakan agama)
Jawaban paling lemah adalah jawaban no 2. Karena tidak akan memiliki sendi yang cukup kuat pada saat kita memiliki anak.
Renungan 2: Mengapa Punya Anak?
Secara umum salah satunya adalah untuk semangat hidup dan untuk melanjutkan keturunan.
à Banyak pasangan yang siap nikah, tapi tidak siap menjadi orang tua.
Banyak ulama dan ustad yang menyampaikan pentingnya keluarga, tetapi sedikit sekali pendidikan menjadi orang tua.
Berapa banyak yang mempelajari metode mendidik anak sebelum memiliki anak?
5. Kemampuan Mengerti Anak
– Perlu konfirmasi.
Contoh: seorang anak bertanya ”Ma, aku berasal dari mana?”
Sebuah kisah lucu di kelas. Kebanyakan yang menjawab, berpikir bahwa pertanyaan ini terkait dengan hubungan biologis, sehingga keluar jawaban “berasal dari papa”, “rahasia mamah dan papa” dsb.
Tapi, sebenarnya yang ditanyakan adalah.
”Maksud aku, Tono kan berasal dari Semarang, Aku berasal dari mana?”
Hal ini menjadi contoh rendahnya kemampuan mendengar kita terhadap anak.
Kepahaman ini bisa dipakai sebagai ukuran seberapa dekat dengan sang anak dengan orang tuanya.
PENTING 4: Kita perlu membawa diri kita kita ke pola pikir anak.
6. Kenyamanan anak dengan orang tua
Berapa banyak anak-anak hari ini di dekat orang tua tidak nyaman? Mengapa orang tua tidak nyaman bagi anak?
Yang menyebabkan anak tidak nyaman dengan orang tua:
l orang tua galak
l tidak nyambung
l kebanyakan nasehat
Telinga anak seringkali panas mendengar nasehat orang tua. Sementara sang anak sendiri tidak punya kesempatan didengar. Sebagian besar anak harga dirinya jatuh di rumah. Sehingga mencari harga diri di luar rumah.
Jadi, alasannya karena overdosis nasehat.
Nasehat itu kebenaran. Tetapi, enak nggak jika overdosis?
Contoh 1.
Jika seorang suami, pagi hari bicara pada istrinya “Ma, harusnya manajemen waktu itu bla2…”. Siangnya bicara lagi “Ma, bukankah dalam al-Qur`an disebutkan bla2….” Malamnya lagi-lagi memberi kultum, tausiyah, dsb…apakah yang disampaikan suami itu salah? Tidak…tapi apakah istri merasa nyaman mendengarnya?
Contoh 2.
Apakah kita dapat berbicara dengan nyaman mengenai siapa yang disukai anak kita, atau kapan anak laki-laki kita pertama kali mimpi basah?
7. Masalah anak
Bisa berakar dari kurang perhatian, bisa juga karena overdosis perhatian
8. Perbedaan Karakter Anak
Setiap anak mungkin memiliki karakter berbeda. Tetapi ini bukan pembenaran untuk melakukan membedakan anak sehingga tidak adil.
Misal :
“Anak pertama saya alhamdulillah sholihah, baik, dst ..tapi adiknya..masya Allah sulit diatur, sepertinya ini ujian buat saya.” Jika begitu, tidak perlu kita melakukan apa-apa pada anak karena semuanya ujian…. ?
9. Jangan Menyalahkan Lingkungan
Karakter anak itu dibentuk oleh orang tua, bukan lingkungannya, bukan karena TV. Anak yang hamil di luar nikah, narkoba, karena ada peran orang tuanya.
10. Tentang Anak
1. Anak adalah anugrah atau beban?
2. Anak lebih banyak memberi atau meminta?
Anak Belahan Jiwa
PENTING 5: Anak lahir dengan Fitrah Baik
Dengan fitrahnya, anak tidak ada yang bercita-cita menjadi buruk/jahat. Anak memiliki fitrah mandiri. Jika saat makan belepotan/tumpah, hal ini wajar karena masih belum bisa mengatur secara sempurna otot dan gerakannya.
11. Sediakan waktu untuk anak
Ada yang bilang 24 hours full mom. tapi tidak bersama anak se-jam pun.
Hati-hati! Trend yang sedang berkembang: 10’PC (10 minutes Parents Club):
5 menit di pagi hari: 1 menit: Bangun bangun bangun
1 menit: mandi mandi mandi
1 menit: salin salin salin (ganti baju)
1 menit: makan makan makan
1 menit: sekolah sekolah sekolah
5 menit di sore-malam hari: 1 menit: pulang pulang pulang
1 menit: mandi mandi mandi
1 menit: makan makan makan
1 menit: belajar belajar belajar
1 menit: tidur tidur tidur
Ada 4 tipe manusia
1. Buruk: menghabiskan waktu untuk hal yang tidak penting
2. Biasa
3. Baik: waktunya untuk hal yang penting dan mendesak.
4. Istimewa: waktunya habis untuk kegiatan yang penting dan tidak mendesak.
Misalnya dating bersama istri berdua. Main bola bersama anak. ini adalah kegiatan penting, tapi tampak tidak mendesak. Namun suatu saat akan menjadi penting dan mendesak. Misalnya banyak orang tua yang baru peduli setelah anaknya terkena narkoba.
PENTING 6: PR1:
”Insya Allah mulai hari ini, saya akan menyediakan waktu bersama anak, setidaknya, 30 menit sehari.”
Bisa ngapain saja, silakan. Bisa main bola, memasak bersama, dsb.
12. Aspek sentral: Kebersamaan, bukan kedekatan.
Bersama anak itu tidak bertiga dengan kompor, berempat dengan komputer, berlima dengan tv, dst…Bersama anak, bukan sekedar di dekat anak.
13. Buatlah Jam Keluarga
Ini yang penting, berbeda dengan jam belajar. Karena anak kita di Indonesia sudah kebanyakan jam belajar. Tapi yang kurang adalah belajar mengelola emosi, ruhiyah.
14. Banyaklah Bicara saat Anak Berbuat Baik
Banyak-banyaklah memuji anak pada saat anak berbuat baik. Jangan malah sebaliknya, karena justru saat anak salah dan kita banyak ngomong, akan keluar kata-kata yang tidak bagus. Banyak orang pintar tapi kalau ngomong nyelekit, karena kurang pernah bermain dan tidak belajar berkomunikasi.
15. Banyak bertindak pada saat anak berbuat buruk, bukan banyak omong
Pada saat anak berbuat buruk, langsung ambil tindakan, tidak perlu keluar satu buku penuh omelan. Misalnya jika anak mencoret tembok dengan spidol, langsung ambil spidolnya. Sediakan kertas besar untuk anak menggambar.
PENTING 7: PR 2:
”Insya Allah mulai hari ini, saya akan banyak bicara saat anak berbuat baik, tapi akan banyak bertindak saat anak berbuat buruk.”
16. Ketika Anak Bertengkar/Berebut Mainan
Adalah pendapat yang ngga tepat jika mengatakan ”Kakak, ngalah dong sama adik!”. Siapa bilang bahwa umur menentukan kebenaran. Jika pendapat ini dianut, sang kakak akan selalu salah, karena umurnya selalu lebih besar daripada adiknya. Pertidaksamaan berikut ini,
Umur kakak < Umur adik
tidak akan pernah terpenuhi.
Jika orang tua tidak paham duduk persoalannya, mainan diambil dulu, lalu anaknya disuruh menyelesaikan di luar kamar/tempat bermain. Jika sudah selesai, silakan masuk. Jika paham, Lihat hak masing-masing tanpa melihat umur.
17. Mengajarkan Kepemilikan
Adalah baik mengajarkan berbagi, tetapi sebelumnya harus diajarkan kepemilikan terlebih dahulu. Mengerti kepemilikan harus dimulai dari rumah. Kita wajib memperjelas kepemilikan barang. Pada saat hendak meminjam barang adik atau kakak, harus minta izin terlebih dahulu dengan yang punya. Jika di rumah saja sudah terbiasa minta izin, apalagi di luar rumah, dan kalau sudah besar, pasti akan jauh dari sifat korupsi.
18. Berantem itu baik
Konflik itu normal dan pasti ada. Jika anak kita berantem, boleh kita membiarkan, dan pasti anak-anak bisa menyelesaikannya sendiri. Pada saat itu anak-anak akan belajar mengelola konlfik, atau manajemen konflik.
19. Buat aturan yang jelas
Misalnya bangun tidur jam berapa, berangkat sekolah jam berapa, bisa main berapa jam, bisa nonton berapa jam, tontonan apa yang boleh ditonton, tidur jam berapa, dsb.
20. Buat konsekuensi yang jelas
21. Jagalah Konsistensi
Yang membuat anak percaya kepada orang tua adalah konsistensi. ketika satu hal saja tidak konsisten, ”database” anak akan kocar-kacir
Misalnya, Anda melarang nonton TV terlalu lama. Ketika sudah terlalu lama, dan anak
tidak patuh, berilah hukuman misalnya, besok tidak boleh nonton, atau seminggu tidak boleh nonton. Tapi jagalah konsistensi ini.
TEGAS itu: TEGA,
bahasa psikologi: KONSISTEN
bahasa agama: ISTIQAMAH
Seringkali orang tua ingin konsisten tetapi ngga tega. Ingin tegas tapi ngga tega. Ingin istiqamah tapi ngga tega. Padahal untuk bisa konsisten, kunci nya harus tega.
PENTING 8: TEGAS TEGAS TEGAS
Usaha anak untuk mendapatkan keinginanannya:
– berbicara, membujuk, negosiasi
– mengamuk dengan bentakan
– memukul
– menangis
 
Contoh. Saat sebelum berangkat, anak berjanji untuk tidak membeli coklat. Saat di jalan anaknya masih ingat janjinya. Di Rak 1, anak masih kuat. Di rak 2, anak mulai ingin coklat. Di rak 3, ingin dibelikan coklat. Di rak 4, nangis ingin dibelikan. Di rak 5, ”mancal-mancal ”
menghentakkan kaki sambil nangis, di rak 5, melempar sepatu. Di rak 6 guling-guling di lantai.
Anak yang Menangis meski mengamuk di lantaiApakah sebaiknya tetap dibelikan?
Jawabannya adalah tidak, meskipun orang-orang pada melihat tingkah anak Anda dan
Anda. Anda harus tetap konsisten. Sekali tidak ya tidak. ”dame wa dame”. Jika tidak tahan malu, sebaiknya Anda pulang/tidak jadi belanja.
PENTING 9: Ada tangisan yang boleh kita biarkan (misalnya anak yang lagi ber-strategi dengan menangis).Tapi ada tangis yang kita harus perhatikan misalnya karena sakit atau sedih.
Jika anak menangis karena sakit atau sedih, kita wajib mendampinginya. Namun jika anak menangis karena strategi, kita wajib mempertahankan kekonsistensian kita. Tangisan anak pasti berakhir, paling lama 4 jam.
22. Jangan banyak larangan
Misalnya anak yang main-main beras. Apanya yang dilarang? apakah karena mahal?
yang dilarang adalah karena buang-buang berasnya.
Anak baru dilarang jika perbuatannya:
• membahayakan diri sendiri
Tapi harus dibedakan juga jangan tercampur dengan melarang karena orang tua sebenarnya malas mengawasi/menjaga, seperti misalnya larangan memanjat.
• menyakiti orang lain
• melanggar syariat Islam
23. Pertanggung jawabkan segala ucapan dan janji yang kita buat pada anak; Jangan Berbohong kepada Anak
Anak tidak percaya kepada orang tua karena sering dibohongi. Walau sepertinya hal kecil, atau strategi kita supaya anak tenang dan ngga rewel, tetapi berbohong akan menjadi cikal bakal anak membangkang. Jangan mengumbar janji hanya untuk membuat anak nurut. Buatlah janji yang bisa dipenuhi. Walau kecil kalau mengatakan sesuatu harus ditepati.
Contoh umum.
Anak juga akan menjadi bingung jika misalnya pada saat belanja, kita bilang ngga bisa beli mainan karena ngga punya uang, tetapi kita belanja banyak. Katakan pada anak bahwa uang kita terbatas, dan diskusikan pemakaian uangnya.
24. Buatlah jadwal membeli mainan, membeli buku, dsb
Misalnya membeli mainan anak setiap tanggal x. Sehingga jika anak Anda melihat mainan,
mudah bagi Anda bahwa ini belum waktunya membeli. Jika kita tidak bisa memenuhinya, harus dibuat kesepakatan untuk diganti di hari lain.
25. Terapkan Uang saku
Perlu diperhatikan di sini bahwa, uang saku tidak sama dengan uang jajan. Juga tidak sama dengan uang tabungan.
Kalau uang jajan biasanya diberikan per hari, dan uang tabungan diberikan untuk menabung. Tetapi uang saku ini akan memberikan efek yang lebih baik daripada uang jajan maupun uang tabungan. Karena anak memiliki ”kuasa kontrol” terhadap uang ini, ia
akan belajar berhati-hati menggunakannya dan belajar mengelola keuangannya. Seberapa untuk ditabung, seberapa untuk dibelanjakan. Akhirnya ia akan memahami arti uang secara benar. Uang saku bisa mulai diberikan perminggu lalu per bulan.
Perhatikan pula usia  anak. Uang saku bisa diberikan mulai usia 7 tahun.
26. Masalah susah makan
Permasalahan umum anak susah makan: belum lapar pada waktu jam makan, sering mengemil sehingga pada jam makan sudah kenyang.
TIPS makan 1: No Snack, No Milk, No Going Outside
Maksudnya agar anak mau makan secara teratur. Karena secara fitrah, anak memiliki perut
dan akan lapar. Anak tidak mau makan karena diberikan snack atau susu atau main di luar
yang membuat dia kenyang di saat makan, atau lupa di saat makan.
TIPS makan 2: Jika waktunya makan, silakan panggil anak untuk makan.
Jika setelah dipanggil tidak mau datang, biarkan saja sampai dia lapar sendiri dan datang. Jangan disuapin apalagi sampai dikejar-kejar.
TIPS makan 3: Makan sendiri.
Terlalu sayang, misalnya sudah besar masih disuapin, akan merusak jiwa kemandiriannya.
27. Jangan mudah menyalahkan anak.
Mungkin ngga semua orang tua pernah memukul anaknya, mungkin ngga semua orang tua pernah membentak anaknya, tetapi sangat jarang sekali ada yang lolos untuk tidak menyalahkan anak.
PENTING 10: Pahami masalah dari dua arah.
28. Penaikan harga diri di rumah
Kalau harga diri di rumah terinjak, anak akan mencari harga diri di luar. Yang bahaya: jika anak kita dipuji karena merokok atau narkoba, anak kita akan merasa itulah caranya supaya mendapat pengakuan dan harga diri.
PENTING 11: Jika harga diri di rumah tinggi, mental anak menjadi kuat.
29. Agar Anak dekat sama kita
Dengarkan apa yang ia katakan. Menjadi pendengar bukan berarti orang tua dikuasai anak. Pada saat anak bisa mengeluarkan banyak pikirannya secara leluasa kepada kita, dia juga akan mudah mendengar dan menerima pendapat dari kita. Dengarkan hingga tuntas dan jangan mengintervensi.
PENTING 12: PR3: Dengar anak bicara, baru kita bicara.
 
30. Pentingnya Didikan dari Orang tua
Mungkin orang tua kita ada yang mengatakan seperti ini:
Mama dulu tidak sekolah tinggi, tapi anak-anak saya menjadi orang pintar semua
Pendapat ini mungkin benar, karena jaman dulu tidak ada TV, tidak ada internet, tidak ada game. Tetapi, di jaman sekarang, jika orang tua tidak mendidik anaknya, anaknya akan dididik oleh yang lain (misalnya TV, internet, lingkungan, dll).
 
Anak Diajar Sendiri atau Outsourcing?
 
PENTING 13: Sebisa mungkin usahakan orang tua sendiri yang mengajar anaknya, misalnya membaca Al-Quran matematika, fisika, biologi, bahasa, dll.
31. Buatlah anak paling percaya kepada Anda
Buatlah anak Anda agar paling percaya kepada Anda, daripada siapapun, meski terhadap nenek atau kakeknya.
Ada seorang anak yang ketika dititipkan kepada kakek atau neneknya, bersikeras tidak mau makan sebuah coklat, meski nenek dan kakeknya mengijinkan/menyuruhnya.
 
PENTING 14: KARUNIA WAKTU
Waktu akan berbalik
 
Kisah ”Aku ingin seperti Mama dan Papa”
Seorang pasangan mendapatkan anugerah bayi yang lucu. Karena saking sayangnya sama anaknya, bekerja keras, pergi subuh pulang malam. Saat mau tidur, tidak sempat membacakan cerita dan mereka mengatakan bahwa adik kan tahu papa dan mama sibuk. Tapi suatu saat nanti akan ada waktu bersama.
Suatu hari anaknya lulus sarjana. Ketika anaknya ditelpon, anaknya bilang nanti ketemu
lagi karena ada janji sama teman. Ketika anaknya telah menikah, dan punya anak, saat ditelp mengatakan: Papa dan mama tahu bahwa anaknya sibuk, sudah berkelarga, suatu saat nanti akan ada waktu yang indah bersama.
Akhirnya sang anak benar-benar menjadi seperti Mama dan Papa.
PENTING 15: KARUNIA KONSISTENSI
Harus seimbang antara kebebasan dan ketegasan.
PENTING 16: Hormatilah jiwa anak-anak kita
Bukan hanya uang, makanan, mainan dan sekolah semata yang penting, yang lebih utama adalah perkataan dan perlakuan penuh cinta dari orang tua, yang akan menjadi warisan terindah untuk masa depan anak.
 
* Abah Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari adalah Direktur Auladi Parenting School, Pendiri Program Sekolah Pengasuhan Anak (PSPA).
Abah Ihsan bisa dikontak di:
• facebook: search dengan ”orangtua-shalih”, inspirasipspa@yahoo.com
 
* Dr. Khoirul Anwar adalah dosen di Information Theory and Signal Processing Lab., School of Information Science, Japan Advanced Institute of Science and Technology, Ishikawa, Japan. Beliau mengikuti seminar parenting di Nagoya, 5 November 2011, bertempat di Nagoya City Gender Equality Promotion Center Tsunagalet, Nagoya.

 

* Catatan ini disusun berdasarkan resume Pak Khoirul Anwar, yang dilengkapi dengan catatan tim PPA Fahima, dan diedit oleh tim PPA Fahima dan panitia Seminar Parenting Fahima.


Gallery | This entry was posted in Parenting. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s