Gelas Yang (Tidak) Terisi Penuh

Oleh Muhaimin Iqbal
Cerita ini saya adopsi dari sepasang suami istri yang saya kenal baik keduanya ketika mereka masih hidup, keduanya kini sudah tidak ada dan dimakamkan di satu liang lahat di pemakaman umum Karet  – meskipun meninggalnya tidak bersamaan. Semasa hidup keduanya adalah direktur di perusahaan-perusahaan tempat kerjanya masing-masing. Ketika sang istri mengundurkan diri dari jabatannya yang bergengsi, saat itu saya sedang mendapat amanah sebagai komisaris di perusahaan tersebut – jadi saya yang mendapat tugas untuk mempelajari alasan pengunduran dirinya.  Tugas saya juga meyakinkan dia untuk stay, kecuali bila alasan yang dia sampaikan sangat bisa diterima.

 

Rupanya si ibu ini bener-bener menyiapkan argumentasinya yang tidak terbantahkan sebelum bertemu dengan saya. Waktu itu saya dari induk perusahaan yang berkantor di tempat lain, maka saya ngalahi yang berkunjung ke si ibu karena saya yang mempunyai misi untuk mem-persuade dia untuk bertahan.

 

Ketika saya masuk di ruang kerjanya dan mulai membahas betapa pentingnya posisi dia saat itu, betapa perusahaan membutuhkannya dlsb. dia mengiyakan semua yang saya sampaikan. Namun setelah saya selesai berbicara dan saya pikir dia sudah setuju untuk bertahan, dia bicara begini kepada saya : “Apakah pak Iqbal punya waktu banyak untuk mendengarkan cerita saya ?” , saya jawab “tentu, saya punya waktu sepanjang hari-pun bila itu diperlukan ibu untuk menyampaikan seluruh uneg-uneg-nya ke saya”.  Tadinya saya berpikir dia mengundurkan diri karena alasan-alasan yang terkait dengan kondisi kerja, gaji atau sejenisnya.

 

Kemudian dia mulai cerita dengan mengambil gelas kosong yang ada dibelakang mejanya dan tiga bola golf (dia memang pemain golf kawakan sejak belia). Kemudian ditaruhnya tiga bola golf ini di gelas hingga memenuhi gelas bahkan hampir tidak muat. Kemudian berkata : “maaf pak Iqbal, apakah gelas saya sudah penuh” , saya pikir saya sedang diajak tebak-tebakan – tapi oke-lah toh saya yang lagi butuh dia saat itu, saya jawab “kayaknya penuh bu, bahkan nyaris tidak muat”.

 

Kemudian dia mengambil kotak kecil yang berisi paper clip, dimasukan paper clip-paper cliptersebut ke celah-celah bola golf sampai semua celah terisi. Kemudian dia bertanya lagi ke saya, “sekarang sudah penuh ya pak Iqbal ?”. Saya jawab pendek karena saya mulai kurang sabar : “iya, nampaknya begitu bu”.

 

Eh dia belum berhenti, dia ambilnya gelas air putih yang ada di meja kerjanya, terus dituangkan kedalam gelas yang sudah berisi bola golf dan paper clip tadi, ternyata masih cukup ruangan untuk mengisi air. Sebelum dia bertanya lagi apakah gelas sudah penuh, saya memberi isyarat yang sangat polite dengan menoleh ke jam tangan saya. Rupanya dia langsung memahami bahwa saya sebenarnya tidak punya waktu banyak, jadi dia tidak melanjutkan ke exercise berikutnya.

 

Dia langsung menjelaskan makna dari yang dia lakukan dengan bola golf, paper clip dan air tadi.

 

Adapun tiga bola golf tadi, itu adalah suami dan dua anak laki-laki saya. Merekalah yang paling penting untuk mengisi hidup saya (yang seperti gelas tadi). Bila masih ada rongga, maka baru bisa diisi dengan hal-hal lain yang berarti seperti pertemanan, persaudaraan dlsb – yang diwakili oleh paper clip- paper clip. Sedangkan pekerjaan adalah hal terakhir yang diwakili oleh air putih tadi .”

 

Jadi, kata dia melanjutkan : “ Air tadi hanya dimasukkan secukupnya, tidak boleh membuat paper clip atau bahkan bola golf keluar dari gelas. Pekerjaan atau karir saya, tidak boleh mengalahkan pertemanan, persaudaraan dan apalagi keluarga saya”.

 

Saya langsung paham karena saat itu saya tahu suaminya sedang sakit keras yang kemudian meninggal dunia tidak lama kemudian, sang istri juga menderita penyakit yang serupa dan meninggal beberapa bulan setelah suaminya. Menjelang akhir hayatnya saya sempat hadir membacakan surat Yasin sampai selesai, juga ikut mengantarnya sampai ke peristirahatan terakhirnya di Karet. Dia telah mengenalkan ke saya prioritas antara keluarga, persahabatan dan pekerjaan. Pekerjaan tidak boleh mengalahkan persahabatan apalagi keluarga !. Wa Allahu A’lam.




Gallery | This entry was posted in Life Stories. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s