Menghafal Al-Qur’an

Oleh Muhaimin Iqbal
Ada kritik dari temen saya yang shaleh tentang tulisan saya yang berjudul Things To Do Sebelum Dan Semasa Pensiun dua hari lalu, yang katanya terlalu condong pada duniawi – padahal ketika pensiun kita semakin dekat dengan akhir hayat kita mestinya semakin condong mengumpulkan bekal untuk hidup kita berikutnya yang abadi.  Saya sependapat dengan dia, namun bekerja untuk mencukupi diri sendiri dan anak istri agar tidak tergantung orang lain, syukur-syukur bisa membantu orang lain untuk juga mencukupi diri dan keluarganya melalui penciptaan lapangan kerja – insyaAllah juga merupakan bagian dari persiapan untuk kehidupan berikutnya – bila diniati untuk mencari keridlaanNya.

 

Agar kerja keras kita sampai akhir hayat selalau berada dan convergent dengan tujuan akhir tersebut, saya setuju pula dengan sarannya untuk menambah dengan things to do berikutnya – yaitu menghafal Al-Qur’an !. Wow, berat amat ?, ini reaksi pertama saya atas saran ini. Saya tahu betapa beratnya menghafal ini karena sudah mencobanya sejak usia 40 tahun, sampai sekarang belum banyak bertambah.

 

Tetapi kemudian dia menjelaskan ; “begini Iqbal : ketika Iqbal menghafal beberapa ayat saja yang terkait dengan ‘wa jannaatin alfaafa’ ? , Iqbal bisa menghidupkan visi yang luar biasa tentang alfaafa dan sekian banyak orang ikut tergerak karenanya. Bayangkan kalau yang bisa Iqbal hafalkan dan uraikan bukan hanya beberapa ayat atau surat, tetapi 6,000 lebih ayat dari 114 surat yang ada di Al-Qur’an, alangkah makmurnya dunia ini. Lebih-lebih bila yang ikut menghafal tersebut bukan hanya Iqbal, tetapi diikuti puluhan ribu orang yang juga ikut membaca blog Iqbal…?

 

Maka saya mulai paham arah nasihatnya, tetapi masih awang-awangen dengan tugas menghafal ini. Sebelum saya men-challenge pemikirannya, dia sudah eager untuk menyampaikan argumennya – tentang mengapa saya harus menghafal Al-Qur’an ini. Dia melanjutkan “Al-Qur’an itu akan menjadi rujukan yang jitu untuk semua masalah yang (akan) Iqbal hadapi di bidang apapun, karena Alllah sendiri yang menjanjikannya”, kemudian dia membacakan penggalan ayat 89 dari surat An-Nahl yang artinya “…Dan kami turunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu, sebagai petunjuk, serta rakhmat dan kabar gembira bagi orang yang berserah diri (muslim)”.

 

Kemudian saya berusaha berargumen, “Tetapi usia saya sudah mendekati 50-an kini, naruh kacamata saja mulai sering lupa tempatnya , bagaimana saya bisa menghafal Al-Qur’an ?”. Diluar dugaan saya – karena keshalehan dan wawasannya yang luar biasa luas – dia mampu meyakinkan saya. Pertama dia mengutip surat 54 ayat 32 yang terjemahannya “Dan sungguh, telah kami mudahkan Al-Quran untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran ?

 

Kemudian tanpa memberi kesempatan saya lagi, dia langsung melengkapi ayat tersebut dengan cerita “jangankan 50 tahun Iqbal, di Mesir ada seorang nenek yang bisa menyelesaikan hafalan Al-Qur’an 30 juz ketika usianya sudah mencapai 82 tahun !”. Dia melanjutkan : “Dia seperti orang kebanyakan kayak kita, sibuk bekerja ketika muda, membesarkan anak, mengurus suaminya dan baru memiliki waktu menghafal ketika anak-anaknya sudah dewasa dan bisa mengurus dirinya sendiri”. Sebelum dia melanjutkan, saya memotong “bagaimana dia bisa selesai menghafal dengan kuat di usia 82 tahun ? ketika saya mencoba menghafalkannya di usia separuh dari dia (40-an) pun sulitnya minta ampun !”.

 

Dia menjelaskan “kuncinya niat yang sangat kuat dan disiplin untuk mencapainya !. Awalnya ketika nenek ini masih agak muda, dia mulai menghafal bersama  putri bungsunya semasa putrinya tersebut masih sekolah setingkat SMA, dipilihnya waktu yang dia dan putrinya bisa bersama, maka setiap habis ashar mereka membaca dengan mengulang-ulang 10 ayat saja- sampai nyaris hafal.  Kemudian esuk hari sebelum anaknya berangkat sekolah mereka saling sotoran hafalan, si anak menyetor ke ibunya dan si ibu menyetor ke anaknya”.

 

Bila si-ibu atau si anak belum sepenuhnya hafal – maka ashar berikutnya tidak menambah bacaan baru tetapi mengulangi 10 ayat sebelumnya sampai bener-bener hafal. Tetapi kemudian si anak beranjak dewasa dan mulai menikah. Di awal-awal pernikahan si anak diijinkan oleh suaminya untuk terus menghafal bersama ibunya – sampai anak-anak mereka lahir, ketika anak-anak lahir si anak sudah tidak bisa lagi bersama ibunya menghafal pagi dan sore. Solusinya adalah si anak yang shalehah ini mencarikan ibunya guru ngaji yang bisa meneruskan disiplin menghafal ibunya setiap pagi dan sore. Karena lamanya proses menghafal, guru demi guru berganti – tetapi semuanya harus bisa meneruskan pola menghafal pagi dan sore. Entah berapa puluh tahun proses ini berlalu, tetapi Alhamdulillah ketika si nenek mencapai usia 82 tahun – dia resmi menjadi hafidzah – penghafal Al-Qur’an”.

 

Jadi kemudahan yang dijanjikan Allah tersebut diatas membuat Al-Qur’an bisa dihafal oleh siapa saja pada usia berapa saja asal dia bersungguh-sungguh dalam niatnya dan disiplin dalam mewujudkan niat tersebut.

 

Teman saya yang shaleh ini melanjutkan, “jadi dengan menghafal Al-Qur’an –Iqbal akan bisa mempunyai jawaban atas setiap persoalan karena sifat Al-Qur’an yang tibyaanal likulli syai’ – menjelaskan segala sesuatu (QS 89 : 2). Bukan hanya masalah duniawi yang teratasi, tetapi ada bonus di akhirat nanti”. Kemudian dia menyampaikan 12 keutamaan bagi para penghafal Al-quran sekaligus menyebutkan rujukannya (karena panjangnya hadits-hadits yang dibacakan ke saya, tidak saya kutip disini ) sebagai berikut :

 

1.     Penghafal Al-Qur’an menjadi ‘keluarga’ Allah.

2.     Ditempatkan di Surga yang paling tinggi.

3.     Ahli Al-Qur’an adalah orang arif di surga.

4.     Menghormati orang yang menghafal Al-Qur’an berarti mengagungkan Allah.

5.     Hati penghafal Al-Qur’an tidak disiksa.

6.     Mereka lebih berhak menjadi imam sholat.

7.     Disayangi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

8.     Dapat memberikan syafaat untuk 10 orang keluarganya atas Ijin Allah.

9.     Mereka akan memakai mahkota kehormatan di hari kiamat.

10.   Hafalan Al-Qur’an menjadi bekal yang paling baik untuk menghadap Allah.

11.   Orang tua para penghafal Al-Qur’an akan memperoleh pahala khusus berupa pakaian yang harganya tidak terbayar oleh penghuni dunia keseluruhannya.

12.   Akan menempati kelas tertinggi di dalam surga.

 

Melihat semangatnya temen saya tersebut mendakwahi saya, akhirnya saya-pun ikut bersemangat. Karena masih banyaknya nasihat yang akan disampaikan ke saya, untuk sementara saya menghentikannya dengan dengan bicara seperti ini kepada dia “ok, ok , insyaAllah saya paham dan saya akan mencoba terus untuk menambah hafalan, bukan hanya itu – saya akan mengajak puluhan ribu pembaca situs saya untuk mengikuti nasihat antum”. Maka melalui tulisan inilah saya penuhi janji saya kepada dia tersebut, untuk mengajak Anda semua pembaca situs ini untuk mulai semangat menghafal Al-Qur’an dan membangun disiplin untuk sungguh-sungguh menyelesaikannya – entah pada usia berapa nanti selesainya, InsyaAllah !

http://www.geraidinar.com/index.php?option=com_content&view=article&id=776:things-to-do-sebelum-dan-semasa-pensiun-2-menghafal-al-quran&catid=37:umum&Itemid=90




Gallery | This entry was posted in Muslim's Corner. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s