Perjalanan Ruh

Tulisan sangat bermanfaat dari suatu milis komunitas pengajian. Mudah2an bermanfaat untuk kita semua.

~mamaMARE~

Perjalanan Ruh
Pernahkah anda hadir di sisi seseorang yang tengah menghadapi sakaratul maut, hingga jasadnya dingin, terbujur kaku, tak bergerak, karena ruhnya telah berpisah dengan badan? Lalu apa perasaan anda saat itu? Adakah anda mengambil pelajaran darinya? Adakah
terpikir bahwa anda juga pasti akan menghadapi saat-saat seperti itu? Kemudian,
pernahkah terlintas tanya di benak anda, ke mana ruh itu pergi setelah berpisah
dengan jasad?

Hadits yang panjang dari Rasul yang mulia Shallallahu ‘alaihi wa sallam di
bawah ini memberi ilmu kepada kita tentang hal itu. Simaklah…

Ruh Orang Mukmin :

Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Al-Bara` bin ‘Azib
radhiyallahu ‘anhu berkisah,“Kami keluar bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengantar jenazah seorang dari kalangan Anshar. Kami tiba di pemakaman dan ketika itu lahatnya sedang dipersiapkan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk.
Kami pun ikut duduk di sekitar beliau dalam keadaan terdiam, tak bergerak.
Seakan-akan di atas kepala kami ada burung yang kami khawatirkan terbang. Di
tangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika itu ada sebuah ranting
yang digunakannya untuk mencocok-cocok tanah. Mulailah beliau melihat ke langit
dan melihat ke bumi, mengangkat pandangannya dan menundukkannya sebanyak tiga
kali. Kemudian bersabda, “Hendaklah kalian meminta perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari adzab kubur,” diucapkannya sebanyak dua atau tiga
kali, lalu beliau berdoa, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari adzab kubur,” pinta beliau sebanyak tiga kali.

Beliau bersabda ,
“Sesungguhnya seorang hamba yang mukmin apabila akan meninggalkan dunia dan
menuju ke alam akhirat, turun kepadanya para malaikat dari langit. Wajah-wajah
mereka putih laksana mentari. Mereka membawa kain kafan dan wangi-wangian dari
surga. Mereka duduk dekat si mukmin sejauh mata memandang. Kemudian datanglah
malaikat maut ‘alaihissalam hingga duduk di sisi kepala si mukmin seraya berkata, “Wahai jiwa yang baik, keluarlah menuju ampunan dan keridhaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Ruh yang baik itu pun mengalir keluar sebagaimana mengalirnya tetesan air dari
mulut wadah kulit. Malaikat maut mengambilnya. (Dalam satu riwayat disebutkan:
Hingga ketika keluar ruhnya dari jasadnya, seluruh malaikat di antara langit
dan bumi serta seluruh malaikat yang ada di langit mendoakannya. Lalu dibukakan
untuknya pintu-pintu langit. Tidak ada seorang pun malaikat yang menjaga pintu
malaikat kecuali mesti berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar ruh si
mukmin diangkat melewati mereka). Ketika ruh tersebut telah diambil oleh malaikat
maut, tidak dibiarkan sekejap matapun berada di tangannya melainkan segera
diambil oleh para malaikat yang berwajah putih.

Mereka meletakkan/membungkus ruh tersebut di dalam kafan dan wangi-wangian yang
mereka bawa. Dan keluarlah dari ruh tersebut wangi yang paling semerbak dari
aroma wewangian yang pernah tercium di muka bumi. Kemudian para malaikat
membawa ruh tersebut naik. Tidaklah mereka melewati sekelompok malaikat kecuali
mesti ditanya, “Siapakah ruh yang baik ini?” Para malaikat yang membawanya
menjawab, “Fulan bin Fulan,” disebut namanya yang paling bagus yang dulunya
ketika di dunia orang-orang menamakannya dengan nama tersebut. Demikian, hingga
rombongan itu sampai ke langit dunia. Mereka pun meminta dibukakan pintu langit untuk membawa ruh tersebut. Lalu dibukakanlah pintu langit. Penghuni setiap langit turut mengantarkan ruh tersebut sampai ke langit berikutnya, hingga mereka sampai ke langit ke tujuh. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Tulislah catatan amal hamba-Ku ini di ‘Illiyin dan kembalikanlah ia ke bumi karena dari tanah mereka Aku ciptakan, ke dalam tanah mereka akan Aku kembalikan, dan dari dalam tanah mereka akan Aku keluarkan pada kali yang lain.”

Si ruh pun dikembalikan ke dalam jasadnya yang dikubur dalam bumi/tanah. Maka
sungguh ia mendengar suara sandal orang-orang yang mengantarnya ke kuburnya
ketika mereka pergi meninggalkannya. Lalu ia didatangi dua orang malaikat yang
sangat keras hardikannya, keduanya menghardiknya, mendudukkannya lalu
menanyakan padanya, “Siapakah Rabbmu?”
Ia menjawab, “Rabbku adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
Ditanya lagi, “Apa agamamu?”
“Agamaku Islam,” jawabnya.
“Siapakah lelaki yang diutus di tengah kalian?” tanya dua malaikat lagi
“Dia adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,” jawabnya
“Apa amalmu?” pertanyaan berikutnya
“Aku membaca Kitabullah, lalu aku beriman dan membenarkannya,” jawabnya.

Ini adalah fitnah/ujian yang akhir yang diperhadapkan kepada seorang mukmin.
Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengokohkannya sebagaimana disebutkan dalam
firman-Nya:

“Allah menguatkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang tsabit/kokoh
dalam kehidupan dunia dan dalam kehidupan akhirat.” (Ibrahim: 27)

Terdengarlah suara seorang penyeru dari langit yang menyerukan, “Telah benar
hamba-Ku. Maka bentangkanlah untuknya permadani dari surga. Pakaikanlah ia
pakaian dari surga, dan bukakan untuknya sebuah pintu ke surga!”

Lalu datanglah kepada si mukmin ini wangi dan semerbaknya surga serta
dilapangkan baginya kuburnya sejauh mata memandang. Kemudian ia didatangi oleh
seseorang yang berwajah bagus, berpakaian bagus dan harum baunya, seraya
berkata, “Bergembiralah dengan apa yang menggembirakanmu. Inilah harimu yang
pernah dijanjikan kepadamu.”

Si mukmin bertanya dengan heran, “Siapakah engkau? Wajahmu merupakan wajah yang
datang dengan kebaikan.”
“Aku adalah amal shalihmu. Demi Allah, aku tidak mengetahui dirimu melainkan
seorang yang bersegera menaati Allah Subhanahu wa Ta’ala dan lambat dalam
bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala
membalasmu dengan kebaikan,” jawab yang ditanya.

Kemudian dibukakan untuknya sebuah pintu surga dan sebuah pintu neraka, lalu
dikatakan, “Ini adalah tempatmu seandainya engkau dulunya bermaksiat kepada
Allah Subhanahu wa Ta’ala, lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala menggantikan bagimu
dengan surga ini.” Maka bila si mukmin melihat apa yang ada dalam surga, ia pun
berdoa, “Wahai Rabbku, segerakanlah datangnya hari kiamat agar aku dapat
kembali kepada keluarga dan hartaku.” Dikatakan kepadanya, “Tinggallah engkau.”

Ruh Orang Kafir Atau Fajir

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan penuturan beliau tentang
perjalanan ruh. Beliau bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba yang kafir (dalam satu riwayat: hamba yang fajir) apabila akan meninggalkan dunia dan menuju ke alam akhirat, turun kepadanya dari langit para malaikat yang keras, kaku, dan berwajah hitam. Mereka membawa kain yang kasar dari neraka. Mereka duduk dekat si kafir sejauh mata memandang. Kemudian datanglah malaikat maut hingga duduk di sisi kepala si kafir seraya berkata, “Wahai jiwa yang buruk, keluarlah menuju kemurkaan dan kemarahan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Ruh yang buruk itu pun terpisah-pisah/berserakan dalam jasadnya, lalu ditarik oleh malaikat maut sebagaimana dicabutnya besi yang banyak cabangnya dari wol yang basah, hingga tercabik-cabik urat dan sarafnya. Seluruh malaikat di antara langit dan bumi dan seluruh malaikat yang ada di langit melaknatnya. Pintu-pintu langit ditutup. Tidak ada seorang pun malaikat penjaga pintu kecuali berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar ruh si kafir jangan diangkat melewati mereka. Kemudian malaikat maut mengambil ruh yang telah berpisah dengan jasad tersebut, namun tidak dibiarkan sekejap mata pun berada di tangan malaikat maut melainkan segera diambil oleh para malaikat yang
berwajah hitam lalu dibungkus dalam kain yang kasar.

Dan keluarlah dari ruh tersebut bau bangkai yang paling busuk yang pernah didapatkan di muka bumi. Kemudian para malaikat membawa ruh tersebut naik. Tidaklah mereka melewati sekelompok malaikat kecuali mesti ditanya, “Siapakah ruh yang buruk ini?” Para malaikat yang membawanya menjawab, “Fulan bin Fulan,” disebut namanya yang paling jelek yang dulunya ketika di dunia ia dinamakan dengannya. Demikian, hingga rombongan itu sampai ke langit dunia, mereka pun meminta dibukakan pintu langit untuk membawa ruh tersebut, namun tidak dibukakan.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian membaca ayat:

“Tidak dibukakan untuk mereka pintu-pintu langit dan mereka tidak akan masuk ke
dalam surga sampai unta bisa masuk ke lubang jarum.” (Al-A’raf: 40)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Tulislah catatan amalnya di Sijjin, di
bumi yang paling bawah.’ Lalu ruhnya dilemparkan begitu saja.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian membaca ayat:

“Dan siapa yang menyekutukan Allah maka seakan-akan ia jatuh tersungkur dari
langit lalu ia disambar oleh burung atau diempaskan oleh angin ke tempat yang
jauh lagi membinasakan.” (Al-Hajj: 31)

Si ruh pun dikembalikan ke dalam jasadnya yang dikubur dalam bumi/tanah. Lalu
ia didatangi dua orang malaikat yang sangat keras hardikannya. Keduanya
menghardiknya, mendudukkannya dan menanyakan kepadanya, “Siapakah Rabbmu?”
Ia menjawab, “Hah… hah… Aku tidak tahu.”
Ditanya lagi, “Apa agamamu?”
“Hah… hah… Aku tidak tahu,” jawabnya.
“Siapakah lelaki yang diutus di tengah kalian?” tanya dua malaikat lagi.
Kembali ia menjawab, “Hah… hah… aku tidak tahu.”
Terdengarlah suara seorang penyeru dari langit yang menyerukan, “Telah dusta
orang itu. Maka bentangkanlah untuknya hamparan dari neraka dan bukakan
untuknya sebuah pintu ke neraka!”

Lalu datanglah kepadanya hawa panasnya neraka dan disempitkan kuburnya hingga
bertumpuk-tumpuk/tumpang tindih tulang rusuknya (karena sesaknya kuburnya).
Kemudian seorang yang buruk rupa, berpakaian jelek dan berbau busuk
mendatanginya seraya berkata, “Bergembiralah dengan apa yang menjelekkanmu.
Inilah harimu yang pernah dijanjikan kepadamu.”

Si kafir bertanya dengan heran, “Siapakah engkau? Wajahmu merupakan wajah yang
datang dengan kejelekan.”
“Aku adalah amalmu yang jelek. Demi Allah, aku tidak mengetahui dirimu ini
melainkan sebagai orang yang lambat untuk menaati Allah Subhanahu wa Ta’ala,
namun sangat bersegera dalam bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalasmu dengan kejelekan,” jawab yang
ditanya.

Kemudian didatangkan kepadanya seorang yang buta, bisu lagi tuli. Di tangannya
ada sebuah tongkat dari besi yang bila dipukulkan ke sebuah gunung niscaya
gunung itu akan hancur menjadi debu. Lalu orang yang buta, bisu dan tuli itu
memukul si kafir dengan satu pukulan hingga ia menjadi debu. Kemudian Allah
Subhanahu wa Ta’ala mengembalikan jasadnya sebagaimana semula, lalu ia dipukul
lagi dengan pukulan berikutnya. Ia pun menjerit dengan jeritan yang dapat
didengar oleh seluruh makhluk, kecuali jin dan manusia. Kemudian dibukakan
untuknya sebuah pintu neraka dan dibentangkan hamparan neraka, maka ia pun
berdoa, “Wahai Rabbku! Janganlah engkau datangkan hari kiamat.” (HR. Ahmad
4/287, 288, 295, 296, Abu Dawud no. 3212, 4753, dll)

Pembaca yang mulia, berita yang shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam pasti benar adanya karena:

“Tidaklah beliau berbicara dari hawa nafsunya, hanyalah yang beliau sampaikan
adalah wahyu yang diwahyukan kepadanya.” (An-Najm: 3-4)

Maka setelah membaca pengabaran beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas,
masihkah tersisa angan yang panjang dalam kehidupan dunia ini? Adakah jiwa
masih berani bermaksiat kepada Rabbul ‘Izzah dan enggan untuk taat kepada-Nya?
Manakah yang menjadi pilihan saat harus menghadapi kenyataan datangnya maut
menjemput: ruh diangkat dengan penuh kemuliaan ke atas langit lalu beroleh
kenikmatan kekal, ataukah diempaskan dengan hina-dina lalu beroleh adzab yang
pedih?

Bagi hati yang lalai, bangkit dan
berbenah dirilah untuk menghadapi “hari esok” yang pasti datangnya. Adapun hati
yang ingat, istiqamah-lah sampai akhir…

Sungguh hati seorang mukmin akan dicekam rasa takut disertai harap dengan
berita di atas, air mata mengalir tak terasa, tangan pun tengadah memohon
kepada Dzat Yang Maha Pengasih lagi Penyayang, “Ya Allah, berilah kami taufik
kepada kebaikan dan istiqamah di atasnya sampai akhir hidup kami. Jangan
jadikan kami silau dan tertipu dengan kehidupan dunia yang fana hingga
melupakan pertemuan dengan-Mu. Wafatkanlah kami dalam keadaan husnul khatimah.
Lindungi kami dari adzab kubur dan dari siksa neraka yang amat pedih. Ya
Arhamar Rahimin, berilah nikmat kepada kami dengan surga-Mu yang seluas langit
dan bumi. Amin… Ya Rabbal ‘Alamin.”

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Gallery | This entry was posted in Muslim's Corner. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s